Guru MTsN 2 Parigi Ikuti Workshop KBC di Aula MAN2 Parigi, Perkuat Kompetensi Pembelajaran

Humas
08 Agustus 2026 46 x Artikel

Guru MTsN 2 Parigi Ikuti Workshop KBC di Aula MAN 2 Parigi, Perkuat Kompetensi Pembelajaran

PARIGI – Guru MTs Negeri 2 Parigi turut ambil bagian dalam kegiatan Workshop Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang digelar di Aula MAN 2 Parigi, Sabtu (8/8/2026). Kegiatan ini menghadirkan narasumber nasional, Shofar Sholahudin Bisri, S.Ag., M.Pd, selaku Widyaiswara sekaligus Tim Pengembang KBC Tingkat Pusat, dan diikuti oleh para guru madrasah yang tergabung dalam Kelompok Kerja Madrasah (KKM) Wilayah 1 Parigi Moutong.


Workshop tersebut menjadi salah satu upaya nyata madrasah dalam mengimplementasikan program prioritas Kementerian Agama melalui penguatan Kurikulum Berbasis Cinta, yang selaras dengan nilai-nilai Panca Cinta, yaitu Cinta Tuhan, Cinta Sesama Manusia, Cinta Ilmu, Cinta Lingkungan, dan Cinta Bangsa.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Madrasah (MKKM) Kabupaten Wilayah 2 Parigi Moutong, Ery Somantri, S.Pd., M.M, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas antusiasme para guru yang mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, Workshop KBC menjadi momentum penting bagi pendidik untuk memperkuat kompetensi sekaligus menghadirkan pembelajaran yang lebih humanis dan bermakna di madrasah.


“Melalui kegiatan ini, kita berharap seluruh guru dapat memahami dan mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Cinta dalam proses pembelajaran. Guru tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga menjadi teladan yang menanamkan nilai-nilai kasih sayang, penghargaan terhadap sesama, serta semangat belajar yang positif bagi peserta didik,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Madrasah (Penmad) Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tengah, H. Muh. Syamsu Nursi, S.Pd.I., M.M, dalam sambutannya memberikan apresiasi kepada seluruh kepala madrasah di wilayah Parigi Moutong yang telah berinisiatif melaksanakan salah satu program strategis Kementerian Agama, yakni penguatan budaya cinta melalui Kurikulum Berbasis Cinta.


“Saya sangat mengapresiasi para kepala madrasah yang telah mendukung terlaksananya program ini dengan menghadirkan pemateri nasional dari tim pengembang KBC tingkat pusat. Ini merupakan langkah nyata untuk memperkuat kualitas pendidikan madrasah yang berorientasi pada pembentukan karakter dan budaya cinta,” ungkapnya.

Ia berharap kehadiran narasumber dapat memberikan pemahaman dan pendampingan secara langsung kepada para guru sehingga setelah mengikuti workshop, peserta mampu menghasilkan perangkat pembelajaran yang baik dan siap diterapkan di madrasah masing-masing.

Lebih lanjut, Syamsu Nursi menegaskan bahwa implementasi Kurikulum Berbasis Cinta diharapkan mampu menciptakan lingkungan madrasah yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi seluruh peserta didik.

“Ke depan, tidak boleh ada lagi siswa yang merasa takut datang ke madrasah. Kehadiran guru di kelas harus mampu menghadirkan ketenangan dan kenyamanan bagi peserta didik. KBC harus menjadi sarana untuk menghilangkan perundungan, kekerasan, maupun intimidasi antarsiswa, dan menggantikannya dengan budaya saling menghargai, menyayangi, serta menghormati sesama,” tegasnya.

Menurutnya, nilai-nilai tersebut sejalan dengan semangat Cinta Sesama Manusia dalam Panca Cinta Kementerian Agama, yang menempatkan madrasah sebagai ruang tumbuh yang penuh empati, toleransi, dan kepedulian.

Pada kesempatan tersebut, Syamsu Nursi juga menyampaikan terima kasih kepada para pengawas madrasah yang telah mendorong dan mendampingi para kepala madrasah sehingga kegiatan workshop yang telah lama dinantikan oleh para guru di lingkungan KKM Wilayah 1 Parigi Moutong dapat terlaksana dengan baik.

“Saya berharap pemateri dapat memberikan penguatan-penguatan yang komprehensif kepada seluruh guru yang hadir sehingga nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta benar-benar dapat diimplementasikan di setiap madrasah,” tambahnya.

Sebelum secara resmi membuka kegiatan, Syamsu menyampaikan sebuah pantun yang disambut meriah oleh peserta workshop:

Ke Parigi membeli ikan,

Ikan dibawa dalam perahu.

Mari KBC kita wujudkan,

Dengan cinta yang tulus dan bermutu.

Usai membacakan pantun tersebut, ia secara resmi membuka Workshop Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang akan berlangsung selama kegiatan pelatihan. Melalui workshop ini, para guru diharapkan semakin memahami konsep dan implementasi KBC dalam pembelajaran, sehingga mampu menghadirkan pendidikan madrasah yang berlandaskan nilai-nilai cinta, memperkuat karakter peserta didik, serta mendukung terwujudnya generasi yang berakhlak mulia, berilmu, dan berdaya saing.


Shofar Sholahudin Bisri: Kurikulum Berbasis Cinta Harus Hadir dalam Setiap Pembelajaran

Anggota Tim Nasional Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), Shofar Sholahudin Bisri, S.Ag., M.Pd., memberikan penguatan mengenai implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dalam pembelajaran pada kegiatan Workshop Kurikulum Berbasis Cinta yang berlangsung di Aula MAN 2 Parigi.


Dalam pemaparannya, Shofar menegaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta bukan sekadar konsep pendidikan, tetapi sebuah pendekatan yang menempatkan nilai kasih sayang, penghargaan terhadap martabat manusia, dan penguatan karakter sebagai fondasi utama dalam proses belajar mengajar. Menurutnya, guru memiliki peran penting dalam menghadirkan pembelajaran yang bermakna, menyenangkan, dan mampu mengembangkan potensi peserta didik secara optimal.

Ia juga mendorong para guru untuk terus berinovasi dan memanfaatkan perkembangan teknologi dalam mendukung pembelajaran. Menurutnya, tantangan pendidikan saat ini harus dijawab dengan kreativitas dan kemauan untuk terus belajar.

“Belajar membutuhkan kreativitas guru, dan saat ini sudah banyak alat yang dapat membantu proses pembelajaran. Karena itu, tidak ada lagi alasan untuk malas dan tidak bisa,” tegas Shofar di hadapan peserta workshop.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa setiap perubahan dan peningkatan kualitas pendidikan membutuhkan usaha serta kesungguhan. Guru tidak boleh terjebak pada zona nyaman yang dapat menghambat perkembangan diri dan kualitas pembelajaran.

“Lebih baik terjebak repot karena memiliki tujuan daripada terjebak nyaman tanpa kepastian,” ujarnya yang disambut antusias oleh para peserta.

Shofar menjelaskan bahwa implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dapat diwujudkan melalui pembelajaran yang menumbuhkan cinta kepada Tuhan, sesama manusia, lingkungan, bangsa, dan ilmu pengetahuan. Nilai-nilai tersebut diintegrasikan dalam setiap aktivitas pembelajaran sehingga peserta didik tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan berakhlak mulia.

Melalui kegiatan ini, para guru diharapkan semakin memahami konsep dan praktik Kurikulum Berbasis Cinta serta mampu menerapkannya secara nyata di madrasah. Dengan demikian, madrasah dapat menjadi ruang pendidikan yang humanis, inklusif, dan berorientasi pada pembentukan generasi yang berilmu, berkarakter, dan berdaya saing.

Dokumentasi pelaksanaan Workshop Kurikulum Berbasis Cinta di Aula MAN 2 Parigi.



parimo sulteng madrasah kemenag

Berita Terpopuler

Kolom Komentar


Berikan Komentar

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Wajib diisi untuk kolom *